Cerpen - Pasti Bisa

Pasti Bisa
International Boarding High School, nama sekolahku. Aku berada di tahun pertama alias kelas 10. Tak ada yang istimewa dariku, itu menurutku. Tapi teman-temanku begitu mengagumi kemampuanku, yaitu menyanyi. Bukannya sombong atau sok merendah, tapi menurutku masih banyak diantara teman-teman ataupun siswa disekolahku yang mahir menyanyi, dan masih banyak yang lebih baik dariku. Pendapat orang memang berbeda-beda bukan?
***
            “Selamat Pagi semuanya!”, sapa guruku. “Selamat pagi, bu”,balas kami. “oh iya,kali ini kalian akan kedatangan teman baru”, ujar guruku. “Wah, teman baru. Sepertinya menyenangkan”, “laki-laki atau perempuan”, “apakah dia menyenangkan?”, “pindahan  darimana dia”, itulah kira-kira yang di pikirkan teman-temanku. Kalau bagiku siapapun itu aku tetap menerimanya, karena hari ini keadaanku memang sedang tak bersemangat. Jadi, tak perlu repot memikirkan siapa yang akan menjadi teman baru kami dikelas. “Silahkan masuk, nak”, kemudian seorang perempuan dengan seragam yang berbeda –tentu saja bukan seragam sekolahku- masuk dan tersenyum tipis kearah guruku. “Mari perkenalkan dirimu”, pinta guruku. “Hai semua, namaku Chika Maydina. Cukup panggil aku Chika. Aku pindahan dari Singapura. Asli Indonesia.Terima kasih. Senang berkenalan dengan kalian dan mohon bantuannya.”, ucapnya kemudian membungkuk 90 derajat dengan maksud memberi hormat kepada semua yang berada dikelas. Dilihat dari ekspresi dan caranya berbicara menegaskan kalau dia sosok perempuan yang serius dan penuh formalitas. Itu menurutku, entahlah teman-temanku menilai bagaimana. “Nah, Chika, silahkan kau duduk di bangku nomor dua itu”, kata guruku sambil menunjuk tempat duduk sampingku yang memang kosong. Tanpa menunggu lama dia langsung menuju bangkuku dan segera duduk. “hai, aku Fenin”, sapaku sambil mengulurkan tangan dan tersenyum, “hai fenin”, singkat, padat, sangat jelas dan hey! Bahkan dia tidak membalas uluran tanganku yang bermaksud mengajaknya berjabat tangan. Setelah menjawabku dia langsung saja menghadap kedepan memerhatikan guru yang sedang mengajar. “aish, padahal kan aku mau bertanya. Hah, baiklah, masih ada waktu. Toh dia kan sebangkuku.”, batinku merasa diacuhkan.
Beberapa jam kemudian..
‘Ting tong ting tong.. It’s time to have break’. Bel istirahat akhirnya berbunyi. Huh, perut sudah meronta-ronta ingin diisi. Segera saja aku bergegas ke kantin. ‘Oh iya’, “Chika, ayo kita ke kantin!”, ajakku pada teman baru sekaligus teman sebangkuku. “maaf, aku tidak tertarik pergi kesana, lagipula aku sudah membawa bekal. Kau pergi saja dengan teman-teman yang lain”, jawabnya disertai ekspresi dinginnya. “ah, begitu ya. Baiklah kalau begitu, aku ke kantin dulu. Bye. Eat well!”, pesanku yang hanya dibalas anggukan. Sepertinya aku harus mencari teman untuk pergi ke kantin. ‘ah, itu dia Mirna, pasti dia mau ke kantin’. “Mirna!!, ayo ke kantin!”, kupanggil sahabatku yang masih membereskan mejanya. “Ayo, tunggu sebentar, Fen”. Tak perlu waktu lama, sekarang aku dan Mirna sudah berjalan menuju kantin. “hei Fen, kenapa kau tak mengajak Chika ke kantin?”, “aku sudah mengajaknya, tapi dia menolak karena sudah membawa bekal, Mirna”, balasku malas. “oh, kenapa dia begitu acuh, susah diajak sosialisasi orangnya”, celoteh Mirna. “Entahlah, aku jadi pesimis bisa akrab dengannya. Awalnya saja sudah seperti ini”. “Ah, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, ini masih hari pertama, mungkin butuh penyesuaian sampai dia bisa melunak dengan kondisi sekitarnya. Lebih baik kita segera memesan makanan. Sebentar lagi jam istirahat akan selesai, Fen”. Aku hanya membalasnya dengan anggukan kepala serta wajahku yang lesu.

Pulang sekolah..
            Kulihat Chika buru-buru mengemasi barangnya. ‘tak sabar untuk sampai rumah rupanya, eoh?!’. “Kenapa buru-buru sekali?”, tanyaku penasaran, “aku sudah dijemput. See You”, jawabnya tanpa menatap orang yang mengajaknya bicara. ‘sabar. Dia hanya perlu waktu’. Kulihat jam tanganku, ternyata sudah jam dua lebih, sebaiknya aku cepat-cepat menuju halte agar tak ketinggalan bis. Aku berjalan tergesa-gesa tanpa melihat kedepan. Dukk.. “Aww. Maaf maaf. Saya kurang memerhatikan jalan. Maaf.”, ucapku sambil membungkuk beberapa kali. Ceroboh bukan, sampai menabrak orang, syukurlah tak sampai terjatuh. Wah sebentar lagi bis akan berangkat, aku harus bergegas.
***
Esoknya..
            Pagi ini ada kelas musik, kelas favoritku. Dan mungkin jadi favorit teman-teman sekelas, karena kelas yang satu ini memang menyenangkan. Kami semua langsung menuju ke ruang musik tanpa disuruh. Aku langsung mendudukkan diriku disamping Mirna yang duduk dekat piano. Ketika Chika masuk, “Hey Chika, kemari. Duduk disampingku!”, seruku sambil melambaikan tangan kearah Chika. Dia tidak menolak ajakanku kali ini, tanpa babibu dia sudah duduk disampingku. ‘awal yang baik bukan’. Kemudian ibu guru hadir dengan senyuman khasnya yang selalu membuat mood para siswa tak pernah buruk. “Selamat pagi semua, maaf setelah ini saya ada acara mendadak, jadi tidak bisa menemani kalian sampai kelas selesai. Untuk tugas minggu depan, ada sedikit pertunjukan siswa secara berkelompok. Dan hari ini silahkan bentuk kelompok, masing-masing tiga orang. Kalian bisa menunjukkan bakat-bakat sesuka hati kalian. Bebas, oke?!”, jelas guru musikku. Kami hanya mengangguk-anggukan tanda mengerti dan setuju. “Bagaimana? Ada pertanyaan?”. Kulihat Mirna mengangkat tangannya, pastinya dia hendak bertanya. “Bu, kalau kami ingin memainkan alat musik bagaimana?”, “oh itu, tenang saja nanti juga disediakan alat-alat musik. Tenang saja”. “sudah tidak ada lagi?, baiklah, semoga sukses untuk minggu depan. See You dear”, “See You Miss”, balas kami serempak. “Mirna, Chika, sekelompok denganku ya!, aku tak menerima penolakan, oke? Hehe”, bujukku. “Cih, dasar pemaksa. Oke oke, lagipula aku juga ingin berkelompok denganmu”, jawab Mirna. Chika.. dia fine fine saja ku ajak berkelompok. Setelah itu dia keluar ruang musik tanpa sepatah katapun. Diikuti teman-teman yang juga keluar menuju kelas bahkan ke kantin ataupun ke perpustakaan untuk sekedar mengisi jam kosong yang seharusnya adalah jam kelas musik. Aku dan Mirna memutuskan untuk pergi ke kelas, entah nanti hanya untuk ngobrol ataupun fangirling.
Sampai kelas..
            Chika sedang membaca novel sepertinya. Dia nampak serius. Baiklah aku tidak ingin mengganggunya dan memutuskan duduk dibangkunya Mirna. Kupikir itu lebih baik. Akhirnya kami berdua ngobrol panjang lebar, dan tidak menyadari kalau Chika sudah tidak ada ditempat duduknya. ‘kemana dia’. “ah, Mirna, aku ke toilet dulu ya”, pamitku, padahal aku mencari teman sebangkuku. ‘dia kemana ya, sepertinya tidak mungkin kalau ke kantin. Apa dia ke perpustakaan? Bisa jadi’. Kuarahkan langkahku menuju perpustakaan. Ketika melewati ruang musik, “eh, bukannya itu suara piano, siapa yang memainkannya?”, pikiranku berfantasi ria. ‘ah, mana mungkin ada hantu di saat terang benderang seperti ini, impossible’. Akhirnya aku memberanikan diri masuk ke ruang musik karena rasa penasaranku yang sudah menggebu-gebu. Dan ternyata yang memainkannya adalah.. Chika.. Wah, percaya atau tidak, tapi yang duduk didepan piano memang benar-benar Chika. Permainan pianonya sangat bagus, seperti sudah sangat mahir. Dasar orang yang irit bicara, saat main pianopun juga diam saja, tidak menggumamkan lirik lagunya atau apa. Sampai tak sadar dia sudah berdiri didepanku menatapku dengan pandangan datarnya. “e-eh, sudah selesai mainnya?, kenapa berhenti, kurasa itu sangat menakjubkan”, ucapku canggung. “sudah, dan kurasa itu cukup”, jawabnya ketus dan hendak berjalan keluar. “eeh.. tunggu, minggu depan kan ada pertunjukan musik, dan kita sekelompok. Kebetulan kau mahir bermain piano, Mirna akan memainkan gitarnya, dan aku yang akan menyanyi, jadi kau mengerti kan maksudku?”, usulku dan tanpa diduga dia tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya dan menjawab “Of course I can. And We can do it”. Puas sekali rasanya Tuhan, semuanya tak terduga. “Nah, kalau beginikan tinggal latihan dan semuanya beres”, “eum, kapan kau punya waktu latihan bersama, Chika?”, tanyaku hati-hati. “terserah kalian, kapanpun itu kuusahakan bisa”, ucapnya masih dengan ekspresi datarnya. “nanti sepulang sekolah di ruang musik, oke”, seruku. Kulihat dia mengacungkan ibu jarinya sambil berjalan menjauh. ‘hmm, mulai melunak rupanya, langkah yang baik bukan, oke Fenin, optimis pasti bisa!’. “ah iya, aku harus segera mengabari Mirna soal ini”. Segera saja aku bergegas ke kelas tak sabaran.
***
Seminggu kemudian..
            Saat yang ditunggu-tunggupun tiba. Ya, pertunjukan musik, pasti akan menarik, bakat-bakat yang tersembunyi akan terlihat nanti. “Nah, Mirna, Chika, sekarang saatnya kita menunjukkan bakat yang ada dalam diri kita, tak perlu lagi kata ragu-ragu ataupun takut, kita harus optimis kalau penampilan kita nanti tak akan mengecewakan, oke?”, keduanya menganggukkan kepala dengan yakin. “Eung, Fenin, Mirna, terimakasih atas semuanya, kalian sudah sabar terhadapku yang memang kaku seperti ini. Tapi aku tetap mencoba untuk terbuka kepada siapapun. Sekali lagi terimakasih”, lagi-lagi dia hanya tersenyum tipis, tapi bukankah ini perubahan yang baik. “Ah, tidak usah merasa seperti itu, kami berdua senang sekali akhirnya kau mau bicara baik-baik kepada kami berdua. Haha”, canda Mirna yang kuyakini sangat-sangat tidak lucu. “hei teman-teman, ayo kita segera ke aula, pertunjukan akan dimulai”, seru salah satu temanku.
Di aula..
            ‘huft.. tenang Fenin, tenang. Aish, kenapa semuanya bagus penampilannya. Jangan sampai down’. “eh, Fen, tumben kau tak tenang seperti itu, biasanya kalau mau tampil-tampil seperti ini kau yang paling santai. Relax, oke?!”, “a-ah, oke Mirna. Thank’s”. “tenang saja. Kita pasti bisa, Fen”, Chika juga tak mau ketinggalan  memberi semangat. Penampilan saat ini akan berakhir, dan itu artinya kami setelah ini yang akan tampil. Kami bergegas menuju backstage untuk bersiap-siap dan checksound. Beberapa menit kemudian kami sudah berada di atas panggung bersiap-siap menampilkan yang terbaik dari yang kami bisa. Suara dentingan piano mulai terdengar, disusul dengan petikan gitar yang amat serasi jika didengar. Dan kini saatnya aku bernyanyi, melantunkan syair lagu yang kami bawakan.
Lima menit kemudian..

            Akhirnya kami selesai menampilkan bakat kami dan mendapat tepukan tangan dan teriakan yang riuh menggema di dalam aula. Kami bertiga membungkuk memberi hormat sebagai penutup penampilan serta ucapan terimakasih kepada semuanya yang telah mengapresiasi penampilan kami. Ketika sudah di backstage, kami segera berpelukan, pelukan haru dan bahagia. ‘Amazing’, semuanya berjalan sesuai yang diharapkan, karena.. “Kita yakin pasti bisa”, teriak kami kompak dan dilanjutkan dengan tawa bahagia kami bertiga.

NOTE CORNER: Cerpen ini tercipta karena adanya tugas Bahasa Indonesia saat kelas XI dulu. Murni dari otak abal-abalku sendiri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pagiku Cerahku

Writing – Hortatory Exposition

Tak Terjangkau, Katanya